Kisah Sangkuriang
Sangkuriang menendang sampan besar yang telah dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh tertelungkup, lalu menjadi sebuah gunung yang bernama Tangkuban Perahu.
Timun Mas
Ia pun melemparkan senjatanya yang terakhir, segenggam terasi udang. Lagi-lagi terjadi keajaiban. Sebuah danau lumpur yang luas terhampar. Raksasa terjerembab ke dalamnya. Tangannya hampir menggapai Timun Mas. Tapi danau lumpur itu menariknya ke dasar. Raksasa panik. Ia tak bisa bernapas, lalu tenggelam.
Cindelaras
Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya.
Si Kelingking
Kelingking pun merasa senang melihat istrinya bahagia karena mempunyai suami yang gagah dan tampan. Akhirnya, mereka pun hidup bahagia. Si Kelingking memimpin negerinya dengan arif dan bijaksana, dan rakyatnya hidup damai dan sejahtera.
Danau Toba
Setelah petani mengucapkan kata-kata tersebut, seketika itu juga anak dan istrinya hilang lenyap tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras.
Thursday, December 24, 2015
Telaga Pasir
Monday, December 21, 2015
Putri Pandan Berduri
Pendek Si Lancang
Kemiskinan yang mereka alami terus berlanjut hingga bertahun-tahun lamanya, hingga pada suatu ketika Si Lancang merasa jenuh dan bosan hidup miskin, ia memutuskan untuk pergi merantau ke negeri orang, lalu Si Lancang meminta izin kepada Emaknya, "Mak, sudah bertahun-tahun kita hidup miskin. Aku ingin bekerja dan mengumpulkan uang," ucap Si Lancang pada Emaknya, "Izinkan aku merantau ke negeri orang, Mak."
Emaknya Si Lancang terkejut mendengar permintaan anaknya, "Nak, kalau kau pergi. Emak tinggal dengan siapa? Tetaplah di sini" ujar Emaknya keberatan.
Si Lancang menghela napas,"Percayalah Mak, ini demi kebaikan kita, agar kita jadi orang kaya, aku mohon Mak, izinkanlah," Si Lancang terus memohon.
Akhirnya dengan berat hati Emaknya mengizinkan, "Baiklah, Emak izinkan, tapi jika kau sudah jadi orang kaya segeralah pulang ke sini. Jangan lupakan Emakmu" pesan Emaknya.
"Benarkah Mak?" tanya Si Lancang meyakinkan, lalu Emaknya mengangguk.
Si Lancang sangat gembira, ia meloncat-loncat dengan riang. Emak Si Lancang tampak sedih melihat anaknya akan pergi. Berjatuhan air matanya. Melihat hal itu, Si Lancang langsung mendekati dan memeluk Emaknya, "Emak, percayalah. Jika nanti aku sudah kaya, aku tidak akan melupakan Emak, jangan sedih Mak," ucap Si Lancang sambil menghapus airmata Emaknya.
Emaknya mengangguk-angguk berusaha tersenyum, "Nanti malam Emak akan membuatkan lumping dodok untuk bekalmu di jalan nanti, esok pagi kau boleh berangkat," kata Emaknya seraya tersenyum.
Keesokan harinya Si Lancang pun berangkat ke kota. Hari cepat berlalu, akhirnya selama bertahun-tahun Si Lancang merantau, ia menjadi seorang pedagang kaya raya, berpuluh-puluh kapal dan ribuan anak buahnya telah ia miliki, juga istri-istri yang cantik.
Si Lancang lupa, sang Emak jauh di kampung halamannya selalu menunggunya. Emaknya semakin miskin. Sedangkan Si Lancang hidup bersenang-senang bersama istri-istri dan kekayaannya yang melimpah ruah.
Pada suatu hari ia berencana mengajak istri-istrinya berlayar ke Andalas. Akhirnya pemberangkatan pun tiba, ia bersama istri-istrinya juga pengawal dan awak kapal telah bersiap. Sejak berangkat dari pelabuhan kota, seluruh penumpang kapal Si Lancang berpesta-pora, mereka menggelar kain sutra dan aneka perhiasan emas dan perak di atas kapal agar semakin tampak kemewahan dan kekayaan Si Lancang.
Setelah beberapa hari berlayar, akhirnya kapal Si Lancang yang megah itu merapat di Sungai Kampar, yaitu kampung halamannya. Penduduk di sekitar Sungai Kampar yang melihat kemegahan kapal Si Lancang perlahan semakin berdatangan, mereka masih mengenali wajah Si Lancang yang beberapa tahun silam pergi merantau dari kampung ini, "Itu Si Lancang rupanya! Wah dia sudah menjadi orang kaya," seru guru mengaji Si Lancang turut bahagia.
"Kapalnya sangat megah, ternyata ia masih ingat jalan pulang ke kampungnya!"seru yang lain yang tak lain adalah teman masa kecil Si Lancang. Lalu ia segera berlari menuju gubuk reot Emak Si Lancang untuk memberitahu kedatangan Si Lancang. "Mak... Mak, anak Emak Si Lancang sudah kembali," teriaknya ketika sampai di gubuk Emak Si Lancang.
Kala itu, Emak Si Lancang tengah terbaring karena sakit, ia langsung terbangun mendengar anaknya sudah kembali. Dia bergegas bangkit dan dengan pakaian yang sudah compang-camping, ia tertatih-tatih menuju pelabuhan Sungai Kampar.
Ketika sampai di pelabuhan, ia terkejut melihat puluhan orang mengerubuti kapal megah Si Lancang. Emak Si Lancang berusaha sekuat tenaga mencoba naik ke geladak kapal, tapi tiba-tiba anak buah Si Lancang membentak, "Hei! Kaa wanita gila, jangan naik ke kapal ini. Pergi" usirnya.
Emak Si Lancang terkejut lalu ia berkata, "Aku..aku adalah Emak Si Lancang, Aku ingin bertemu dengan anakku," ucap Emak Si Lancang. Namun anak buah- anak buah Si Lancang tetap mengusirnya, terjadilah kegaduhan.
Si Lancang didampingi oleh istri-istrinya menghampiri ke geladak kapal itu,
"Ada apa ini?” Tanya Si Lancang yang merasa terganggu.
Emak Si Lancang yang melihat anaknya Iangsun g berkata, “Lancang, ini Emakmu. Kau masih ingat kan?" seru Emaknya gembira.
Si Lancang terkejut melihat Emaknya masih hidup, namun bukannya ia memeluk Emaknya, ia malah membentak kasar, ia malu pada istri-istrinya memiliki Emak yang miskin dan kucel, "Bohong! Kau bukan Emakku. Kau kotor dan jelek! Usir dia dari kapalku!" teriak Si Lancang pada anak-anak buahnya.
Emaknya terkejut mendengar kata-kata anaknya, belum sempat ia berkata, ia sudah didorong oleh anak buah Si Lancang sampai terjatuh, "Pergi!!!" teriak anak buah Si Lancang kasar.
Hati Emak Si Lancang sangat hancur dan sakit, ia tak menyangka akan di perlakukan demikian oleh anaknya yang selama ini dinanti-nantikannya. Dengan perasaan terluka, Emaknya kembali pulang ke gubuknya sambil menangis.
Sesampainya di gubuk, Emak Si Lancang langsung mengambil lesung dan nyiru pusaka, ia memutar-mutar lesung itu dan mengipasinya dengan nyiur sambil berdoa dengan khusyuknya, "Ya Tuhan, Si Lancang telah kulahirkan selama sembilan bulan lamanya, telah kubesarkan ia dengan ikhlas, kini ia telah berubah. Tunjukanlah kekuasaan-Mu Tuhan," Iepas Emaknya berkata demikian, tiba-tiba datang angin topan berhembus amat kencang, sementara itu petir menggelegar menyambar kapal Si Lancang, lalu gelombang Sungai Kampar naik dan menghantam kapal Si Lancang sampai hancur berantakan, semua penumpang di atas kapal itu berteriak ketakutan dan semua penduduk berlarian menjauhi sungai.
Terdengar sayup-sayup suara Si Lancang yang berteriak di tengah badai, "Emaaak...! Aku anakmu, Si Lancang telah pulang.. maafkan aku...!" Namun tetap saja Si Lancang dan istri-istrinya juga para penumpang kapal itu tenggelam. Barang-barang yang ada di kapal Si Lancang berhamburan, kain sutra yang dibawa si Lancang dalam kapalnya melayang-Iayang.
Lalu kain itu berlipat dan bertumpuk menjadi Negeri Lipat Kain yang terletak di Kampar Kiri, sebuah buah gong terlempar dan jatuh di dekat gubuk Emak Si Lancang di Rumbio, menjadi Sungai Ogong di Kampar Kanan. Lalu sebuah tembikar pecah dan melayang menjadi Pasubilah yang letaknya berdekatan dengan Danau Si Lancang.
Kemudian di danau itulah tiang bendera kapal si Lancang tegak, bila tiang bendera kapal Si Lancang itu tiba-tiba muncul ke permukaan danau, maka pertanda akan terjadi banjir di Sungai Kampar. Konon, banjir itulah air mata si Lancang yang menyesali perbuatannya karena durhaka kepada Emaknya.
Saturday, December 19, 2015
Putri Mambang Linau
Saturday, December 5, 2015
Rubah Hitam Menjadi Raja Rimba
Setelah sang harimau menghilang para binatang mengadakan sebuat pertemuan penting untuk memilih raja rimba yang baru, disana telah hadir 4 hewan sebagai calon raja rimba yang baru hewan itu adalah rusa, keledai, burung kakaktua dan kera cokelat, dan para hewan memilih kera cokelat untuk menjadi raja. Namun kera cokelat itu sangat rakus dan tamak setiap hari dia selalu saja menyuruh kera-kera lain untuk mengambilkan seluruh makanan di rimba tersebut bahkan makanan yang diberikan kepadanya tidak pernah dia habiskan. Setiap hari kera cokelat itu selalu berbuat seperti itu meskipun para hewan sudah memintanya untuk segera meninggalkan sikapnya yang merugikan namun dia tidak pernah mendengarnya.
Seekor rubah yang pernah ingin menjadi raja melihat kesempatan, sang rubah sangat tidak menyukai kera cokelat itu karena ketika pemilihan calon raja rimba dia menggeser posisi sang rubah dan kini saatnya sang rubah untuk membalaskan dendamnya kepada sang kera cokelat, suatu hari sang kera cokelat di hampiri oleh rubah, rubah itu memberitakan sebuah benda aneh yang berisikan banyak makanan yang aneh pula dan makanan itu amat sangat lezat. Kera cokelat rakus itupun menjadi sangat senang dan langsung menyuruh sang rubah menunjukan jalannya hingga mereka sampai ke tempat benda aneh tersebut.
Ketika sang kera cokelat mengabil makanan itu tanganya terjepit oleh benda aneh tersebut, sang rubah tahu bahwa benda itu adalah sebuah perangkap dan dia sengaja menipu sang kera, hingga akhirnya sang kera dibawa oleh para pemburu seperti halnya raja rimba terdahulu yakni harimau.
Dengan dibawanya kera cokelat itu oleh para pemburu kini posisi raja rimba kembali kosong tidak ada yang mengisi maka para hewan mengadakan pertemuan kembali untuk mencari raja baru, kini sang rubah pendendam itu maju menjadi salah satu calon raja rimba dan saingannya adalah seekor gajah. Para hewan yang berkumpul disana berdiskusi hingga lama sekali memilih siapa diantara kedua hewan ini yang paling cocok menjadi raja rimba, bagi yang terpilih harus menjadi raja yang adil dan bijaksana dalam menyelesaikan sebuah persoalan. Pertemuan tersebut ditunda hingga esok hari karena para hewan masih bimbang memilih siapa yang pantas menjadi raja rimba.
Keesokan harinya dalam pertemuan tersebut ditunjuklah sang rubah untuk menjadi raja hutan, sang rubah terlihat sangat bahagia mendengar hal tersebut, namun sang rubah sama sekali tidak berbeda dengan kera cokelat yang rakus, dia juga memiliki sifat rakus bahkan lebih rakus dari sang kera dan sampai saat itu hewan-hewan di rimba tersebut bernasib sama ketika diperintah oleh kera cokelat rakus sang raja rimba.
Pesan moral dari Kumpulan Cerita Rakyat Daerah Riau : Rubah Hitam Menjadi Raja Rimba adalah hati-hatilah dalam memilih pemimpin. Pilihlah pemimpin yang cerdas, adil dan bijaksana sehingga kita tidak akan menyesal di kemudian hari.















