Bisnis Toko Online 468x60

Kisah Sangkuriang

Sangkuriang menendang sampan besar yang telah dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh tertelungkup, lalu menjadi sebuah gunung yang bernama Tangkuban Perahu.

Timun Mas

Ia pun melemparkan senjatanya yang terakhir, segenggam terasi udang. Lagi-lagi terjadi keajaiban. Sebuah danau lumpur yang luas terhampar. Raksasa terjerembab ke dalamnya. Tangannya hampir menggapai Timun Mas. Tapi danau lumpur itu menariknya ke dasar. Raksasa panik. Ia tak bisa bernapas, lalu tenggelam.

Cindelaras

Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya.

Si Kelingking

Kelingking pun merasa senang melihat istrinya bahagia karena mempunyai suami yang gagah dan tampan. Akhirnya, mereka pun hidup bahagia. Si Kelingking memimpin negerinya dengan arif dan bijaksana, dan rakyatnya hidup damai dan sejahtera.

Danau Toba

Setelah petani mengucapkan kata-kata tersebut, seketika itu juga anak dan istrinya hilang lenyap tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras.

Sunday, February 7, 2016

Legenda Reog Ponorogo

Dahulu kala ada seorang puteri yang cantik jelita bernama Dewi Sanggalangit. Ia puteri salah satu raja yang terkenal di Kediri. Karena wajahnya yang cantik jelita dan sikapnya yang lembut, banyak pangeran dan raja-raja ingin meminangnya untuk dijadikan sebagai istri.

Namun sayangnya Dewi Sanggalangit belum memiliki keinginan untuk berumah tangga sehingga membuat pusing kedua orang tuanya. Padahal kedua orang tuanya sudah sangat mendambakan seorang cucu ditengah-tengah keluarga mereka.

"Anakku, sampai kapan kau menolak setiap pangeran yang datang melamarmu?" Tanya raja pada suatu hari.
"Ayahanda, sebenarnya hamba belum berhasrat untuk bersuami. Namun jika ayahanda sangat mengharapkan hamba untuk menikah, baiklah. Tapi hamba meminta syarat, suami hamba harus memenuhi keinginan hamba".
"Lalu apa keinginanmu?"
"Hamba belum tahu.."
"Lho, kok aneh??" sahut baginda.
"Hamba akan bersemedi terlebih dahulu untuk meminta petunjuk Dewa. Setelah itu hamba akan menghadap ayahanda untuk menyampaikan keinginan hamba."

Demikianlah, lalu Dewi Sanggalangit bersemedi selama tiga hari tiga malam memohon petunjuk sang Dewa. Lalu pada hari ke empat ia menghadap ayahandanya.

"Ayahanda, calon suami hamba harus mampu menghadirkan sebuah tontonan yang menarik. Tontonan atau pertunjukan yang belum pernah ada sebelumnya. Semacam tarian yang diiringi tabuhan dan gamelan, dilengkapi dengan barisan kuda kembar sebanyak seratus empat puluh ekor yang nantinya akan dijadikan sebagai pengiring pengantin. Terakhir harus dapat menghadirkan binatang berkepala dua.

"Wah berat sekali syaratmu itu..!!" Sahut baginda.

Meski berat, namun syarat itu tetap diumumkan kepada rakyat-rakyatnya, tak terkecuali raja-raja dan pangeran dari negeri tetangga dan seberang.

Para pelamar yang tadinya menggebu-gebu unuk memperistri Dewi Sanggalangit banyak yang ciut nyalinya dan akhirnya mereka mengundurkan diri karena merasa syarat yang harus dipenuhi sangat mustahil dan berat.

Akhirnya tinggal dua orang saja yang tersisa dan menyatakan siap dan sanggup untuk memenuhi permintaan Dewi Sanggalangit. Mereka adalah Raja Singabarong dari Kerajaan Lodaya dan Raja Kelana Swandana dari Kerajaan Bandarangin.

Baginda Raja sangat terkejut mendengar kesanggupan kedua raja itu. Sebab raja Singabarong adalah manusia yang aneh, ia seorang manusia berkepala harimau. Wataknya buas dan kejam. Sedangkan Kelanaswandana adalah seorang raja yang berwajah tampan dan gagah, namun punya kebiasaan aneh. Suka pada anak laki-laki. Anak laki-laki dianggapnya sebagai gadis-gadis cantik.

Namun semua sudah terlanjur, Dewi Sanggalangit tidak bisa menggagalkan persyaratan yang telah diumumkannya.

Raja Singabarong bertubuh besar dan tinggi. Dari bagian leher ke atas berwujud harimau yang menyeramkan. Berbulu lebat dan dipenuhi dengan kutu-kutu. Itulah sebabnya ia memelihara seekor burung merak yang rajin mematuki kutu-kutunya.

Raja Singabarong telah memerintahkan kepada para abdinya untuk mencarikan kuda-kuda kembar. Mengerahkan para seniman untuk menciptakan sebuah tontonan yang menarik dan mendapatkan seekor binatang berkepala dua.. Namun pekerjaan tersebut ternyata tidak mudah. Kuda kembar sudah bisa dikumpulkan, namun tontonan dengan kreasi yang baru belum juga tercipta, demikian pula dengan binatang berkepala dua belum juga bisa didapatkan.

Maka pada suatu hari ia memanggil patihnya yang bernama Iderkala. Ia diutus oleh Raja Singabarong untuk menyelidiki kesiapan dari pesaingnya, Kelanaswandana. Patih Iderkala dan beberapa prajurit terlatihnya segera berangkat menuju kerajaan Bandarangin dengan menyamar sebagai seorang pedagang. Setelah mereka melakukan penyelidikan dengan seksama selama beberapa hari, mereka kembali ke Lodaya.

"Ampun Baginda. Kiranya si Kelanaswandana hampir berhasil mewujudkan permintaan Dewi Sanggalangit. Hamba melihat lebih dari seratus kuda dikumpulkan. Mereka juga telah menyiapkan tontonan yang  menarik dan sangat menakjubkan." Patik Iderkala melaporkan.

"Wah Celaka..!! Kalau begitu, sebentar lagi dia dapat merebut Dewi Sanggalangit sebagai istrinya." Kata Raja Singabarong."Lalu bagaimana dengan binatang berkepala duanya?? Apa mereka juga sudah siapkan??"

"Hanya binatang itulah yang belum mereka siapkan Baginda, tapi nampaknya sebentar lagi mereka dapat menyiapkannya" Sambung Patih Iderkal.

"Patih Iderkala, mulai siapkan prajurit pilihan yang terbaik dengan persenjataan yang lengkap. Setiap saat mereka harus siap diperintah untuk menyerbu ke Bandarangin.

Demikianlah, Raja Singabarong ingin bermaksud untuk merebut hasil usaha keras Raja Kelanaswandana. Setelah mengadakan persiapan yang matang, Raja Singabarong memerintahkan beberapa mata-matanya untuk menyelidiki perjalanan yang ditempuh Raja Kelanaswandana dari Wengker menuju Kediri. Rencananya Raja Singabarong akan menyerbu mereka diperjalanan dan merebut hasil usaha Raja Kelanaswandana untuk diserahkan sendiri kepada Dewi Sanggalangit.

Namun, Rencana Raja Singabarong hancur karena semua mata-matanya berhasil ditangkap dan dibunuh oleh prajurit kerajaan Bandarangin karena kedok mereka terbongkar.

Sementara itu Raja Singabarong yang menunggu laporan dari prajurit mata-matanya yang di kirim ke kerajaan Bandarangin nampak gelisah. Ia segera memerintahkan kepada patih Iderkala untuk menyusul mereka ke perbatasan. Sementara ia sendiri pergi ke taman sari untuk menemui si burung merak, karena pada saat itu kepalanya terasa gatal sekali.

"Hai burung merak, cepat patukilah kutu-kutu dikepalaku!" Teriak Raja Singabarong menahan gatal.

Burung merak yang biasa melakukan tugasnya segera hinggap di bahu Raja Singabarong dan mulai mematuki kutu-kutu yang bertebaran di kepala Raja Singabarong. Karena Patukan-patukan yang nikmat dari Burung Merak itu, Raja Singabarong sampai tertidur pulas. Ia sama sekali tak mengetahui keadaan diluar istana. Karena tak ada prajurit yang berani melapor kepadanya.

Di luar istana pasukan Bandarangin telah menyerbu dan mengalahkan prajurit Lodaya. Bahkan patih Iderkala yang dikirim ke perbatasan telah tewas terlebih dahulu karena berpapasan dengan pasukan Bandarangin. Ketika pertempuran itu sudah merambat ke dalam istana dekat taman sari, barulah Raja Singabarong terbangun dari tidurnya karena mendengar suara ribut-ribut. Sementara si burung merak masih saja terus mematuki kutu-kutu di kepala Raja Singabarong. Jika dilihat secara sepintas dari depan Raja Singabarong terlihat seperti binatang berkepala dua yaitu berkepala harimau dan merak.

"Hai mengapa diluar sana ribut-ribut...!!!" Teriak Raja Singabarong marah.

Namun tak ada jawaban, kecuali berkelebatnya bayangan seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Raja Kelanaswandana.

Raja Singabarong terkejut sekali. "Hai Raja Kelanaswandana mau apa kau datang kemari..??"

"Jangan pura-pura bodoh!!" Sahut Raja Kelanawandana. "Bukankah kau hendak merampas usahaku dalam memenuhi persyaratan Dewi Sanggalangit..!!"

"Hemm, jadi kau sudah tahu??" Sahut Raja Singabarong dengan penuh rasa malu.

"Ya, maka aku akan menghukum kamu!!"

Lalu Raja Kelanaswandana mengeluarkan kesaktiannya. Seketika kepala Raja Singabarong menjadi berubah. Burung merak yang tadinya hinggap di bahunya lalu menempel dan menyatu dengan kepala Raja Singabarong. Raja Singabarong marah bukan kepalang, lalu ia mencabut kerisnya dan meloncat untuk menyerang Raja Kelanaswandana. Namun Raja Kelanaswandana segera mengayunkan cambuk saktinya yang bernama Samandiman ke tubuh Raja Singabarong. Cambuk itu dapat megeluarkan hawa panas dan suaranya seperti halilintar.

Begitu terkena sabetan cambuk itu, Raja Singabarong terpental dan menggelepar-gelepar diatas tanah. Seketika tubuhnya terasa lemah dan berubah menjadi  binatang aneh, berkepala dua yaitu harimau dan merak. Ia tidak dapat berbicara dan akalnya pun hilang. Raja Kelanaswandana segera memerintahkan prajuritnya untuk menangkap Singabarong dan membawanya ke negeri Bandarangin.

Beberapa hari kemudian Raja Kelanaswandana mengirim utusan yang memberitahukan Raja Kediri bahwa ia segera datang membawa persyaratan Dewi Sanggalangit. Raja Kediri langsung memanggil Dewi Sanggalangit.

"Anakku apa kau benar-benar bersedia menjadi istri dari Raja Kelanaswandana??"

"Ayahanda, apakah Raja Kelanaswandana sanggup untuk memenuhi semua persyaratan yang telah hamba sampaikan??"

"Tentu saja, Dia akan datang dengan semua persyaratan yang kau ajukan, masalahnya sekarang apakah kau tidak menyesal juga harus menjadi istri Raja Kelanaswandana??".

"Jika hal itu sudah menjadi jodoh, hamba akan menerimanya sebagai Suami hamba ayahhanda, dan hamba akan merubah kebiasaan buruk Raja Kelanaswandana yang suka kepada laki-laki itu."

Beberapa hari kemudian, Raja Kelana Suwandana pergi ke Kerajaan Kediri. Ia hendak melamar Dewi Sanggalangit. Iring-iringan panjang terlihat di belakang kudanya. Seratus empat puluh ekor kuda kembar yang ditunggangi pemuda-pemuda rupawan. Nampak pula sekelompok penari dan seekor binatang berkepala dua, yang tak lain adalah jelmaan Raja Singabarong.

Raja Kelana Suwandana disambut dengan meriah oleh seluruh rakyat Kediri. Kemudian ia dinikahkan dengan Dewi Sanggalangit. Untuk meramaikan upacara pernikahan itu, di alun-alun Kediri diadakan tari-tarian yang diiringi dengan berbagai tetabuhan. Tontonan itu kemudian dinamai reog. Karena asal reog dari Ponorogo maka reog itu disebut Reog Ponorogo.


Calon Arang dan Keris Weling Putih



Sang Prabu Erlangga kebingungan, sejak tadi ia berjalan mondar-mandir di ruangannya. Patih Narottama yang berdiri di dekatnya, juga tampak terlihat kebingungan. Kerajaan Kahuripan saat ini tengah diserang penyakit aneh, Penyakit itu banyak sekali memakan korban jiwa baik dari masyarakat umum maupun keluarga pejabat dan keluarga kerajaan. Ternyata, penyakit itu disebarkan oleh seorang wanita penyihir yang sangat kejam dan sakti. Namanya Serat Asih, tapi ia lebih dikenal dengan nama Calon Arang. Ia tinggal di Desa Girah.

Karena khawatir penyakit itu akan semakin meluas, Raja Erlangga mengutus Patih Narottama untuk menangkap Calon Arang. Setelah menerima perintah tersebut, Patih Narottama mengumpulkan para prajurit pilihannya. “Wahai, para prajuritku. Mari kita berangkat ke Desa Girah untuk menangkap wanita penyihir itu,” perintah Patih Narottama.

Mereka kemudian memulai perjalanan ke Desa Girah, menuju tempat tinggal Calon Arang.

Calon Arang terkejut melihat kedatangan para prajurit kerajaan. Ia segera mengumpulkan empat murid terbaiknya yang bernama Supala, Guritna, Datyeng, dan Pitrah untuk melawan mereka. Pertempuran sengit pun tak terelakkan. Calon Arang berhadapan sendiri dengan Patih Narottama.

“Ha… ha… ha… pria tua sepertimu mana bisa mengalahkan aku,” ejek Calon Arang. Hati Patih Narottama panas mendengar ejekan itu. Ia segera menghunus pedangnya dan menebas leher Colon Arang hingga putus.

Namun kejadian aneh terjadi! Setiap kali kepala Calon Arang putus terkena tebasan pedang Patih Narottama, kepala itu dengan mudah bersatu kembali ke tubuhnya. Calon Arang terus tertawa mengejek, semakin lama suara tawanya semakin mengerikan.

Patih Narottama menarik mundur pasukannya. Ia sadar, mereka tak mungkin mengalahkan Calon Arang saat itu juga. Ia pun menghadap Raja Erlangga dan menceritakan apa yang terjadi. “Hmm… pasti ia punya rahasia. Tidak mungkin ia tak bisa dikalahkan, tapi kita harus tahu apa rahasia kesaktiannya,” gumam Raja Erlangga.

“Mungkin sebaiknya kita minta pendapat Empu Bharada? Ia adalah adik ipar Calon Arang, barangkali ia tahu apa yang harus kita lakukan,” jawab Patih Narottama.

Empu Bharada dipanggil ke istana. Setelah Raja Erlangga dan Patih Narottama menceritakan masalah yang mereka hadapi, ia berpikir dengan keras. “Baiklah Baginda, hamba akan mencari jalan keluarnya. Semoga kali ini kita berhasil mengalahkannya,” kata Empu Bharada.

Empu Bharada kembali ke rumahnya dan memanggil muridnya yang bernama Bahula. “Bahula, Baginda memintaku untuk mencari tahu rahasia Calon Arang. Karena itu, aku memerlukan bantuanmu,” katanya pada Bahula. “Jika ini untuk kepentingan rakyat, saya bersedia membantu Empu. Bagaimana caranya?” jawab Bahula.

Empu Bharada meminta Bahula menikahi anak perempuan Calon Arang yang bernama Ratna Manggali. “Jika kau menikah dengannya, kau akan mudah melaksanakan tugas ini. Aku tahu semua rahasia Colon Arang ada di kitab pusakanya. Carilah kitab itu dan berikan padaku,” jelas Empu Bharada.

Awalnya Bahula tampak ragu, ia memikirkan kekasihnya Wedawati, yang tak lain adalah anak perempuan Empu Bharada.

Empu Bharada mengetahui kegundahan hati Bahula. “Jangan khawatir, Wedawati tak akan tahu. Aku memintamu melakukan ini demi keselamatan rakyat kita,” tegas Empu Bharada. Bahula pun mengangguk setuju.

Bahula segera melakukan perjalanan ke Desa Girah. Di sana, ia segera mencari rumah Colon Arang dan menyatakan maksudnya untuk menikahi Ratna Manggali. Melihat paras Bahula yang tampan serta tingkah lakunya yang sopan, Calon Arang pun menerima lamarannya. Ia ingin membuat pesta pernikahan yang meriah untuk Ratna Manggali dan Bahula.

Setelah resmi menjadi suami-istri, pengantin baru itu tinggal di rumah mertuanya.

Pada suatu malam, Bahula melaksanakan tugasnya. Setelah yakin keadaan aman, ia mengendap-endap memasuki kamar Calon Arang. Begitu membuka lemari, matanya terpaku pada sebuah kotak kayu berwarna cokelat.

“Pasti ia menyimpan kitab pusakanya disini,” bisiknya dalam hati.

Bahula segera mengambil kotak kayu itu dan meninggalkan rumah. Ia lari di kegelapan malam, menuju rumah Empu Bharada, gurunya.

Keesokan harinya, Calon Arang terkejut bukan main melihat kotak kayunya telah raib. Ia mencari Bahula, tapi tak ditemukannya. Ia berprasangka, pasti Bahula yang mencuri kotak kayu itu. Sementara itu, Bahula telah menyerahkan kotak kayu itu pada Empu Bharada. Empu Bharada segera membukanya dan mencari kelemahan Calon Arang di kitab pusaka.

“Ah, ini dia. Semua rahasia kekuatan sihir Calon Arang pasti ada pada kitab ini,” teriak Empu Bharada senang. Ia langsung mempelajari isi kitab itu dengan saksama. Bahula menunggu dengan sabar.

“Bahula, menurut kitab ini, Calon Arang hanya dapat dikalahkan dengan Keris Weling Putih,” kata Empu Bharada. “Bukankah keris itu milik Empu sendiri?” tanya Bahula bingung. Sambil tersenyum, Empu Bharada menjawab “Ya, kau benar. Berarti aku bisa membunuh Calon Arang dengan mudah.

Empu Bharada mengambil keris Weling Putih miliknya dan bersiap-siap mengadakan perjalanan ke Desa Girah. Bahula mengikutinya dengan setia. Di sana, Calon Arang rupanya sudah menunggu Bahula.

“Bahula, segera kembalikan kitab pusakaku yang kau curi! Berani sekali kau menipuku dan putriku, rasakan pembalasanku!” kata Calon Arang sambil menyerang Bahula.

Bahula berkelit, Empu Bharada segera menghadang langkah Calon Arang. “Kong Ayu, kau telah menyusahkan seluruh rakyat Kahuripan. Raja telah memerintahkan kami untuk membunuhmu supaya pengaruh sihirmu lenyap untuk selama-lamanya,” kata Empu Bharada.

“Ha… ha… kau hendak melawan kakak iparmu sendiri? Silakan saja jika kau mampu,” jawab Calon Arang. Dengan cepat ia menyerang Empu Bharada, namun Empu Bharada tak kalah sigap. Keris Weling Putih dicabutnya dari pinggangnya untuk menangkis serangan sihir Calon Arang.

Calon Arang terkejut melihat keris itu. “Ampun Dimas, jangan kau bunuh aku dengan keris itu,” teriaknya mengiba.

“Kong Ayu, maafkan aku. Aku harus membunuhmu, jika tidak, rakyat akan semakin menderita,” jawab Empu Bharada sambil menghujamkan keris itu ke tubuh Calon Arang. Calon Arang meninggal seketika. Saat itu juga, segala penyakit yang menyerang rakyat Kerajaan Kahuripan lenyap tak berbekas. Rakyat kembali hidup berbahagia dan aman sentosa.


Awal Mula Terbentuknya Telaga Ngebel





Asal mula terbentuknya Telaga Ngebel adalah dari penjelmaan seekor naga, yang konon naga itu adalah penjelmaan dari keris empu yang terkenal pada masa itu. Ketika sang naga meminta pengakuan kepada sang empu bahwa dia adalah anaknya, karena sang empu mengetahui bahwanya naga itu adalah penjelmaan keris pusaka, maka sang empu memberikan syarat kepada naga itu. Syaratnya adalah jika sang naga dapat melingkari gunung Wilis dengan tubuhnya, maka diakuinya dia menjadi anaknya.

Ternyata dibalik syarat yang diberikan sang empu kepada sang naga adalah sebuah tipu daya. Karena sang naga tidak dapat melingkari gunung Wilis dengan tubuhnya, maka dia menjulurkan lidahnya. Nah disinilah tipu daya itu. ketika sang naga menjulurkan lidahnya, tiba-tiba sang empu memotong lidah itu kemudian yang terjadi adalah berubahlah lidah sang naga menjadi keris pusaka, sedang sang naga sendiri menjelma menjadi seorang anak yang bernama Barukliting.

Dari sinilah awal permulaan ceritanya, tatkala sang naga telah menjelma menjadi manusia, dia merasakan kelaparan yang amat sangat. Disaat bersamaan ada pesta dari seorang perempuan yang kaya raya di sebuah desa dilereng Gunung Wilis. Ketika Baruklinting meminta makanan dipesta itu, bukan makanan yang didapat, akan tetapi diusir dan dimaki habis-habisan dia oleh sang perempuan kaya itu.

Baruklinting sakit hati dengan perlakuan yang diterimanya. Saat Baruklinting akan pergi dari desa itu, rasa laparnya belumlah hilang, ketika itu ada seorang nenek lewat dan memberinya makanan(mbok rondo). Baruklinting senang sekali karena rasa laparnya kini telah hilang oleh pertolongan mbok Rondo. Karena rasa sakit hatinya pada penduduk desa dan si perempuan kaya yang telah memaki dan mengusirnya, dia mempunyai rencana untuk membalasnya. Ketika rencana tersebut akan dilaksanakan, berpesanlah Baruklinting pada mbok rondo untuk mempersiapkan lesung(alat untuk menumbuk padi yang bentuknya seperti prahu) dan entong kayu(alat untuk mengambil nasi).

Berangkatlah Baruklinting ke desa itu, lalu dia mengadakan sayembara, yang isinya: barang siapa dapat mencabut kayu yang saya tancapkan ini, maka saya akan meninggalkan desa ini. Semua penduduk desa mencobanya satu persatu, tapi apa gerangan yang terjadi? Tak ada satupun yang dapat mencabutnya. Ketika para penduduk desa tak sanggup mencabutnya, dicabutnya sendiri kayu itu. Apa gerangan yang terjadi? Keluarlah air yang deras dari bekas tancapan kayu itu. Tak sorangpun dapat menghentikan alirannya, terjadilah bencana air bah, tenggelamlah desa itu dengan penduduknya, tak seorangpun selamat, kecuali Mbok Rondo yang menolong Baruklinting, dengan menaiki lesung, sesuai amanat dari Baruklinting. Pada akhirnya desa tersebut menjadi sebuah telaga, yang sekarang dipanggil dengan sebutan Telaga Ngebel yang letaknya di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.


Saturday, January 30, 2016

Putri Nyale



Pada zaman dahulu di pantai selatan Pulau Lombok terdapat sebuah kerajaan yang bernama Tonjang Beru. Sekeliling di kerajaan ini dibuat ruangan - ruangan yang besar. Ruangan ini digunakan untuk pertemuan raja - raja. Negeri Tonjang Beru ini diperintah oleh raja yang terkenal akan kearifan dan kebijaksanaannya Raja itu bernama raja Tonjang Beru dengan permaisurinya Dewi Seranting.

Baginda mempunyai seorang putri, namanya Putri Mandalika. Ketika sang putri menginjak usia dewasa, amat elok parasnya. Ia sangat anggun dan cantik jelita. Matanya laksana bagaikan bintang di timur. Pipinya laksana pauh dilayang. Rambutnya bagaikan mayang terurai. Di samping anggun dan cantik ia terkenal ramah dan sopan. Tutur bahasanya lembut. Itulah yang membuat sang putri menjadi kebanggaan para rakyatnya.

Semua rakyat sangat bangga mempunyai raja yang arif dan bijaksana yang ingin membantu rakyatnya yang kesusahan. Berkat segala bantuan dari raja rakyat negeri Tonjang Beru menjadi hidup makmur, aman dan sentosa. Kecantikan dan keanggunan Putri Mandalika sangat tersohor dari ujung timur sampai ujung barat pulau Lombok. Kecantikan dan keanggunan sang putri terdengar oleh para pangeran - pangeran yang membagi habis bumi Sasak (Lombok). Masing - masing dari kerajaan Johor, Lipur, Pane, Kuripan, Daha, dan kerajaan Beru. Para pangerannya pada jatuh cintar. Mereka mabuk kepayang melihat kecantikan dan keanggunan sang putri.

Mereka saling mengadu peruntungan, siapa bisa mempersunting Putri Mandalika. Apa daya dengan sepenuh perasaan halusnya, Putri Mandalika menampik. Para pangeran jadi gigit jari. Dua pangeran amat murka menerima kenyataan itu. Mereka adalah Pangeran Datu Teruna dan Pangeran Maliawang. Masing - masing dari kerajaan Johor dan kerajaan Lipur. Datu Teruna mengutus Arya Bawal dan Arya Tebuik untuk melamar, dengan ancaman hancurnya kerajaan Tonjang Beru bila lamaran itu ditolaknya. Pangeran Maliawang mengirim Arya Bumbang dan Arya Tuna dengan hajat dan ancaman yang serupa.

Putri Mandalika tidak bergeming. Serta merta Datu Teruna melepaskan senggeger Utusaning Allah, sedang Maliawang meniup Senggeger Jaring Sutra. Keampuhan kedua senggeger ini tak kepalang tanggung dimata Putri Mandalika, wajah kedua pangeran itu muncul berbarengan. Tak bisa makan, tak bisa tidur, sang putri akhirnya kurus kering. Seisi negeri Tonjang Beru disaput duka.


Kenapa sang putri menolak lamaran ? Karena, selain rasa cintanya mesti bicara, ia juga merasa memikul tanggung jawab yang tidak kecil. Akan timbul bencana manakala sang putri menjatuhkan pilihannya pada salah seorang pangeran. Dalam semadi, sang putri mendapat wangsit agar mengundang semua pangeran dalam pertemuan pada tanggal 20 bulan 10 ( bulan Sasak ) menjelang pagi - pagi buta sebelum adzan subuh berkumandang. Mereka harus disertai oleh seluruh rakyat masing - masing. Semua para undangan diminta datang dan berkumpul di pantai Kuta. Tanpa diduga - duga enam orang para pangeran datang, dan rakyat banyak yang datang, ribuan jumlahnya. Pantai yang didatangi ini bagaikan dikerumuni semut.

Ada yang datang dua hari sebelum hari yang ditentukan oleh sang putri. Anak - anak sampai kakek - kakek pun datang memenuhi undangan sang putri ditempat itu. Rupanya mereka ingin menyaksikan bagaimana sang putri akan menentukan pilihannya. Pengunjung berduyun - duyun datang dari seluruh penjuru pulau Lombok. Merekapun berkumpul dengan hati sabar menanti kehadiran sang putri.

Betul seperti janjinya. Sang putri muncul sebelum adzan berkumandang. Persis ketika langit memerah di ufuk timur, sang putri yang cantik dan anggun ini hadir dengan diusung menggunakan usungan yang berlapiskan emas. Prajurit kerajaan berjalan di kiri, di kanan, dan di belakang sang putri. Sungguh pengawalan yang ketat. Semua undangan yang menunggu berhari - hari hanya bisa melongo kecantikan dan keanggunan sang putri. Sang putri datang dengan gaun yang sangat indah. Bahannya dari kain sutera yang sangat halus.

Tidak lama kemudian, sang putri melangkah, lalu berhenti di onggokan batu, membelakangi laut lepas. Disitu Putri Mandalika berdiri kemudian ia menoleh kepada seluruh undangannya. Sang putri berbicara singkat, tetapi isinya padat, mengumumkan keputusannya dengan suara lantang dengan berseru : ??Wahai ayahanda dan ibunda serta semua pangeran dan rakyat negeri Tonjang Beru yang aku cintai. Hari ini aku telah menetapkan bahwa diriku untuk kamu semua. Aku tidak dapat memilih satu diantara pangeran. Karena ini takdir yang menghendaki agar aku menjadi Nyale yang dapat kalian nikmati bersama pada bulan dan tanggal saat munculnya Nyale di permukaan laut.??

Bersamaan dan berakhirnya kata - kata tersebut para pangeran pada bingung rakyat pun ikut bingung dan bertanya - tanya memikirkan kata - kata itu. Tanpa diduga - duga sang putri mencampakkan sesuatu di atas batu dan menceburkan diri ke dalam laut yang langsung di telan gelombang disertai dengan angin kencang, kilat dan petir yang menggelegar.

Tidak ada tanda - tanda sang putri ada di tempat itu. Pada saat mereka pada kebingungan muncullah binatang kecil yang jumlahnya sangat banyak yang kini disebut sebagai Nyale. Binatang itu berbentuk cacing laut. Dugaan mereka binatang itulah jelmaan dari sang putri. Lalu beramai - ramai mereka berlomba mengambil binatang itu sebanyak - banyaknya untuk dinikmati sebagai rasa cinta kasih dan pula sebagai santapan atau keperluan lainnya.

Itulah kisah Bau Nyale. Penangkapan Nyale menjadi tradisi turun - temurun di pulau Lombok. Pada saat acara Bau Nyale yang dilangsungkan pada masa sekarang ini, mereka sejak sore hari mereka yang akan menangkap Nyale berkumpul di pantai mengisi acara dengan peresean, membuat kemah dan mengisi acara malam dengan berbagai kesenian tradisional seperti Betandak (berbalas pantun), Bejambik (pemberian cendera mata kepada kekasih), serta Belancaran (pesiar dengan perahu). Dan tak ketinggalan pula, digelar drama kolosal Putri Mandalika di pantai Seger.

************

Setiap tanggal duapuluh bulan kesepuluh dalam penanggalan Sasak atau lima hari setelah bulan purnama, menjelang fajar di pantai Seger Kabupaten Lombok Tengah selalu berlangsung acara menarik yang dikunjungi banyak orang termasuk wisatawan. Acara yang menarik itu bernama Bau Nyale. Bau dari bahasa Sasak artinya menangkap. Sedangkan Nyale, sejenis cacing laut yang hidup di lubang - lubang batu karang di bawah permukaan laut.

Penduduk setempat mempercayai Nyale memiliki tuah yang dapat mendatangkan kesejahteraan bagi yang menghargainya dan mudarat bagi orang yang meremehkannya.??Itulah yang berkembang selama ini,?? ujar Lalu Wirekarme yang pernah menjabat sebagai Kepala Sub Dinas Pemasaran Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah.

Tradisi menangkap Nyale (bahasa sasak Bau Nyale) dipercaya timbul akibat pengaruh keadaan alam dan pola kehidupan masyarakat tani yang mempunyai kepercayaan yang mendasar akan kebesaran Tuhan, menciptakan alam dengan segala isinya termasuk binatang sejenis Anelida yang disebut Nyale. Kemunculannya di pantai Lombok Selatan yang ditandai dengan keajaiban alam sebagai rahmat Tuhan atas makhluk ini.

Beberapa waktu sebelum Nyale keluar hujan turun deras dimalam hari diselingi kilat dan petir yang menggelegar disertai dengan tiupan angin yang sangat kencang. Diperkirakan pada hari keempat setelah purnama, malam menjelang Nyale hendak keluar, hujan menjadi reda, berganti dengan hujan rintik - rintik, suasana menjadi demikian tenang, pada dini hari Nyale mulai menampakkan diri bergulung - gulung bersama ombak yang gemuruh memecah pantai, dan secepat itu pula Nyale berangsur - angsur lenyap dari permukaan laut bersamaan dengan fajar menyingsing di ufuk timur.

Dalam kegiatan ini terlihat yang paling menonjol adalah fungsi solidaritas dan kebersamaan dalam kelompok masyarakat yang dapat terus dipertahankan karena ikut mendukung kelangsungan budaya tradisional.

Keajaiban Nyale bagi suku Sasak Lombok telah menimbulkan dongeng tentang kejadian yang tersebar hampir keseluruh lapisan masyarakat Lombok dan sekitarnya. Dongeng ini sangat menarik dengan cerita yang sangat romantis dan berkembang melalui penuturan orang - orang tua yang kemudian tersusun dalam naskah tentang legenda Nyale


Putri Mayang



Di pinggiran sungai Siak, berdirilah kerajaan  Gasib. Raja Gasib mempunyai putri semata wayang bernama Putri Kaca Mayang yang cantik jelita.

Berita kecantikan sang putri  masyhur ke penjuru negeri. Namun,  tidak seorang pangeran pun yang berani melamarnya, karena  Raja Gasib memiliki seorang panglima yang gagah perkasa, Gimpam namanya.

Cerita  tentang kecantikan sang Putri pun sampai ke telinga Raja Aceh. Ia berniat menjadikan Putri Kaca Mayang sebagai istrinya. Raja Aceh lalu mengutus dua orang panglima untuk melamar sang putri.

Sesampainya di kerajaan Gasib, panglima tersebut menyampaikan maksud kedatangan mereka. “Maaf Paduka Raja, kami diutus Raja Aceh untuk meminang tuanku Putri Kaca Mayang,” ucap sang panglima yang berbadan subur.

Raja Gasib kurang suka pada Raja Aceh  karena berperangai tidak baik. Dengan bahasa yang sopan dan berwibawa, Raja Gasib pun  menjawab, “Tolong sampaikan permohonan maaf kami kepada Raja Aceh. Putri  Kaca Mayang belum berniat untuk menikah.

“Baik tuan, kami pamit dulu,” jawab panglima satunya lagi.

Utusan kerajaan Aceh itu pun  pulang dengan tangan hampa. Saat mendengar laporan dari panglimanya, bahwa lamarannya ditolak, Raja Aceh merasa tersinggung. Ia merasa Raja Gasib telah sengaja menghinanya. Ia lalu memerintahkan pasukannya untuk menyerang  Gasib. Raja Gasib yang telah berfirasat akan mendapat serangan, menyuruh penduduknya bersiap siaga. Panglima Gimpam memimpin penjagaan Kuala Gasib di sekitar sungai Siak.

Rupanya, persiapan yang dilakukan raja Gasib diketahui raja Aceh. Keberadaan Panglima Gimpam di Kuala Gasib pun tak luput dari intaian mata-mata Raja Aceh. Secara diam-diam, pasukan Aceh memasuki  Gasib melalui jalur darat.

Saat memasuki wilayah Gasib, raja Aceh bertanya kepada seorang penduduk yang ia jumpai, “wahai, Anak muda, maukah kau menunjukkan di mana lokasi kerajaan Gasib?”

Karena mengetahui  sedang berhadapan dengan raja Aceh yang ingin menyerang kerajaan mereka, sang pemuda menjawab, “maaf, Tuan, saya tidak tahu.” Ia tidak mau berkhianat kepada raja mereka.

Merasa dibohongi, raja Aceh segera memerintahkan anak buahnya memukul sang pemuda. Di bawah ancaman dan tekanan, akhirnya sang pemuda menunjukkan kerajaan Gasib.

Raja Gasib tidak mengetahui kedatangan pasukan Aceh. Ia sedang asyik bercengkerama dengan keluarganya. Raja Aceh menyerang kerajaan Gasib dan berhasil menculik  Putri Kaca Mayang.

Berita penyerangan dan penculikan sang putri segera dilaporkan kepada Panglima Gimpam yang sedang berjaga-jaga di jalur perairan. Panglima Gimpam segera kembali ke istana. Di hadapan sang raja, Panglima Gimpam berjanji akan membawa  Putri Kaca Mayang kembali ke kerajaan Gasib.

Maka, berangkatlah panglima Gimpam  mencari sang putri. Halangan yang ia jumpai selama di perjalanan tidak menyurutkan tekadnya untuk menemukan Putri Kaca Mayang. Ia berpantang pulang sebelum usahanya berhasil.

Raja Aceh menyiagakan pasukannya dan dua ekor gajah  di gerbang kerajaannya, untuk menghalangi panglima Gimpam memasuki istana. Namun, panglima Gimpam tidak gentar sedikit pun. Setelah melewati pertarungan yang sengit, akhirnya Panglima Gimpam  yang tangguh berhasil menaklukkan dua ekor gajah tersebut. Raja  Aceh tak berkutik melihat kekuatan Panglima Gimpam. Ia berhasil memabawa Putri  Kaca Mayang menjauhi  istana Aceh.

Di perjalanan menuju Gasib, tepatnya di daerah Kuantan, tiba-tiba Putri Kaca Mayang merasa susah bernapas karena angin yang kencang dan cuaca yang dingin.

“Panglima, tolong sampaikan maafku kepada ayahanda Raja Gasib. Aku tidak sanggup melanjutkan perjalanan ini lagi,” kata Putri Kaca Mayang terbata-bata.

“Bertahanlah, Putri. Sebentar lagi kita akan sampai ke istana,” Panglima Gimpam menyemangati tuan putri.

“A-a… ku tak kuat lagi pang… li… maa…,” ucap Putri Kaca Mayang.

Tak lama berselang, sang Putri menghembuskan napas terakhir.

Seluruh penduduk Gasib sangat  berduka atas kematian Putri Kaca Mayang. Mereka  berbondong-bondong menuju istana untuk melihat putri kesayangan mereka untuk terakhir kalinya. Jasad sang Putri di makamkan di Gasib.

Sejak kepergian putrinya, raja Gasib selalu  tampak murung. Kala kerinduan kepada sang putri menghampirinya, sang Raja terlihat mengeluarkan airmata. Untuk menghilangkan kegundahannya, akhirnya ia memutuskan menyepi ke negeri seberang, Gunung Ledang di Malaka. Tampuk kepemimpinan ia percayakan kepada panglima Gimpam.

Di bawah kepemimpinan Panglima Gimpam, kerajaan Gasib berkembang pesat. Namun, panglima Gimpam tidak mau serakah dan gila pangkat. Ia tidak ingin berbahagia di atas kesedihan  orang lain. Ia akhirnya meninggalkan Gasib, dan membuka perkampungan baru yang bernama Pekanbaru.