Kisah Sangkuriang
Sangkuriang menendang sampan besar yang telah dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh tertelungkup, lalu menjadi sebuah gunung yang bernama Tangkuban Perahu.
Timun Mas
Ia pun melemparkan senjatanya yang terakhir, segenggam terasi udang. Lagi-lagi terjadi keajaiban. Sebuah danau lumpur yang luas terhampar. Raksasa terjerembab ke dalamnya. Tangannya hampir menggapai Timun Mas. Tapi danau lumpur itu menariknya ke dasar. Raksasa panik. Ia tak bisa bernapas, lalu tenggelam.
Cindelaras
Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya.
Si Kelingking
Kelingking pun merasa senang melihat istrinya bahagia karena mempunyai suami yang gagah dan tampan. Akhirnya, mereka pun hidup bahagia. Si Kelingking memimpin negerinya dengan arif dan bijaksana, dan rakyatnya hidup damai dan sejahtera.
Danau Toba
Setelah petani mengucapkan kata-kata tersebut, seketika itu juga anak dan istrinya hilang lenyap tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras.
Saturday, February 20, 2016
Legenda Lawang Sewu
Saturday, February 13, 2016
Jaka Tarub Dan Tujuh Bidadari
Alkisah seorang pemuda, yang bernama Jaka Kudus, mengembara karena dimarahi ayahnya Ki Ageng Kudus. Dalam pengembaraanya Jaka Kudus menikahi putri Ki Ageng Kembanglampir. Tak lama berselang Putri itupun mengandung dan akhirnya meninggal saat melahirkan seorang bayi laki-laki.
Bayi laki-laki yang ditinggal mati ibunya itu, ditemukan seorang pemburu bernama Ki Ageng Selandaka. Si bayi digendong sambil mengejar burung sampai ke desa Tarub. Karena suatu hal, Ki Ageng Selandaka akhirnya meninggalkan bayi tersebut sendirian. Untunglah, si bayi ditemukan seorang janda yaitu Nyai Ageng Tarub, dan dijadikan anak angkat. Oleh penduduk sekitar ia dipanggil dengan nama Jaka Tarub.
Jaka Tarub merupakan pemuda yang memiliki kesaktian juga gagah berani serta gemar berburu. Dengan keberaniannya itu ia sering bolak-balik ke hutan yang ada di gunung keramat untuk berburu. Di dalam gunung itu terdapat telaga yang sangat indah.
Pada suatu ketika, ia melewati telaga itu dan secara tidak sengaja ia melihat para bidadari sedang mandi disana. Jaka Tarub terpikat oleh tujuh bidadari itu, kemudian ia mengambil selendang salah satu bidadari itu. Setelah para bidadari selesai mandi, merekapun berdandan dan siap-siap untuk kembali ke kahyangan. Salah seorang bidadari yang tidak menemukan selendangnya tidak dapat kembali ke kahyangan dan dia ditinggalkan oleh teman-temannya karena hari mulai senja. Tak lama kemudian Jaka Tarub datang menghampiri dan berpura-pura menolong sang Bidadari itu yang bernama Nawangwulan, dan merekapun akhirnya pulang ke rumah Jaka Tarub karena hari sudah menjelang malam.
Singkat cerita, merekapun akhirnya menikah dan memiliki seorang putri cantik bernama Nawangsih. Sebelum mereka menikah, Nawangwulan mengingatkan kepada Jaka Tarub untuk tidak menanyakan kebiasaan yang akan dilakukannya nanti setelah ia menjadi istri Jaka Tarub. Rahasianya yaitu, Nawangwulan memasak nasi selalu menggunakan satu butir beras, dengan sebutir beras itu ia dapat menghasilkan nasi yang banyak. Namun setelah mereka menikah Jaka Tarub memang terlihat penasaran namun dia tidak bertanya langsung kepada Nawangwulan melainkan ia langsung membuka dan melihat panci yang biasa dijadikan istrinya untuk memasak nasi. Akibat dari perbuatannya itu akhirnya Nawangwulan kehilangan kekuatannya hingga saat itu ia menanak nasi seperti wanita umumnya.
Lama-kelamaaan gabah yang ada di lumbungnya habis. Ketika gabahnya tinggal sedikit, ternyata selendang Nawangwulan ada di lumbung gabah tersebut yang di sembunyikan oleh suaminya.
Disana Nawangwulanpun merasa sangat marah ketika ternyata suaminyalah yang mencuri benda itu hingga akhirnya ia mengancam untuk pergi ke kahyangan. Jaka Tarub pun memelas agar istrinya tidak pergi lagi ke kahyangan, namun Nawangwulan sudah bulat tekadnya, hingga akhirnya ia pergi kembali ke kahyangan. Namun begitu sesekali ia tetap turun ke bumi untuk menyusui bayinya.
Setelah itu Jaka Tarub menjadi pemuka desa dan memiliki gelar Ki Ageng Tarub. Ia bersahabat dengan Raja Majapahit yaitu Brawijaya. Suatu hari, Brawijaya memerintahkan kepada anak angkatnya Ki Buyut Masahar dan Bondan Kejawen untuk mengirimkan keris pusaka Kyai Mahesa Nular kepada Ki Ageng Tarub. Karena Jaka Tarub tahu kalau Bondan Kejawen itu putra kandung Raja Brawijaya, kemudian Jaka Tarub meminta agar dia tinggal.
Sejak saat itu, Ki Ageng Tarub mengangkat Bondan Kejawen sebagai anak angkat dan namanya diganti menjadi Lembu Peteng. Ketika Nawangsih tumbuh dewasa, merekapun akhirnya dinikahkan.
Setelah Jaka Tarub meninggal dunia, Maka Lembu Peteng diangkat menjadi Ki Ageng Tarub yang baru. Lembu Peteng dan Nawangsih memiliki seorang putra yang di beri nama Ki Getas Pandawa. Lalu Ki Ageng Getas Pandawa memiliki seorang putra yang dikenal dengan nama Ki Ageng Sela yang merupakan kakek buyut dari pendiri Kesultanan Mataram yaitu Panembahan Senapati.
Roro Mendut
Asal Mula Bledug Kuwu
Kubangan lubang tanah yang menyemburkan lumpur di lahan tanah tak kurang sekitar 40 hektar di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Propinsi Jawa Tengah dipercaya sebagai tapak tilas makhluk mengerikan berwujud ular naga raksasa yang mencari lokasi kerajaan bapaknya. Masyarakat sekitar percaya bahwa lubang di Bledug Kuwu itu terhubung dengan laut selatan, sehingga air semburan itu berasa asin. Dan inilah cerita turun temurun dari masyarakat sekitar tentang asal mula Bledug Kuwu tersebut.
Konon pada Jaman dahulu di kerajaan Medang Kamulan dikuasai oleh seorang raja bernama Prabu Dewata Cengkar. Dia adalah sosok raja yang sombong, serakah dan ditakuti. Ia juga dikenal sebagai raja yang tidak bisa mati, sehingga tidak pernah kalah kala bertarung melawan musuh-musuhnya. Ia juga sering menarik upeti kepada rakyat semaunya. Jika ada yang membangkang, langsung dibunuh. Apabila ada prajurit yang tidak taat, langsung dipecat bahkan hingga dihukum mati. Konon, Dewata Cengkar mempunyai ritual meminum darah manusia. Kesaktian raja itu menyebabkan dirinya tidak bisa terbunuh atau mati. Namun akhirnya datanglah seorang tokoh ksatria dari negeri Tibet bernama Aji Saka. Di tangan Aji Saka lah Dewata Cengkar kuwalahan dalam menghadapinya. Terjadi pertarungan hingga akhirnya Dewata Cengkar kalah. Meski demikian, pertarungan itu tidak menyebabkan raja tersebut terbunuh, dia hanya kalah bertarung. Dewata Cengkar kemudian melarikan diri ke laut selatan dan malih rupa menjadi bajul putih atau buaya putih. Aji Saka kemudian mengutus anaknya bernama Jaka Linglung, untuk mengejarnya ke laut selatan.
Konon , keanehan itu disebabkan adanya lubang yang menghubungkan tempat itu dengan laut selatan. Lubang itu sendiri terjadi dari perjalanan pulang Joko Linglung dari laut selatan menuju kerajaan Medang Kamulan, setelah melaksanakan tugasnya untuk menaklukkan Prabu Dewata Cengkar yang telah berubah menjadi buaya putih di laut selatan. Dan hal itu dilakukan Joko Linglung yang berujud ular naga sebagai syarat agar Joko Linglung diakui sebagai anaknya Aji Saka yang sebagai raja Medang Kamulan ketika itu.
Adanya kandungan garam ditempat itu oleh masyarakat setempat dimanfaatkan untuk membuat garam secara tradisional dengan cara airnya dikeringkan di glagah (bambu yang dibelah jadi dua). Ada juga yang membawa lumpur Bledug Kuwu untuk dibawa pulang dan konon lumpur itu buat lulur di kulit agar kulit terhindar dari penyakit kulit juga diyakini bisa membuat lebih cemerlang bagi kulit yang sudah sehat.
Sunday, February 7, 2016
Legenda Atu Belah ( Batu Belah )
Sementara itu ayahnya pulang berburu. Sang ayah kelihatan amat kesal dan lelah. Ia tidak memperoleh rusa buruan. Kemarahannya menjadi bertambah besar ketika ia mengetahui dari istrinya bahwa semua belalang di lumbung telah terbang. Kekesalannya pun bertambah pula bila diingatnya betapa lamanya ia telah mengumpulkan belalang-belalang itu. Kini semuanya lenyap dalam tempo sekejap saja. Dalam keadaan lupa diri itu, si ayah memukul istrinya sampai babak belur. Kemudian ia menyeretnya ke luar rumah.
Sambil merintih kesakitan. sang ibu pergi meninggalkan rumahnya. Dalam keputus asaan ia menuju ke Atu Belah yang selalu menerima dan menelan siapa saja yang bersedia ditelannya. Niat semacam ini dapat terkabul jika ia menjangin, yaitu mengucapkan kata-kata sambil bernyanyi dalam bahasa Gayo sebagai berikut:
"Atu belah, atu bertangkup nge sawah pejaying te masa dahulu. " Artinya: Batu Belah, batu bertangkup, sudah tiba janji kita masa lalu.
Kata-kata itu dinyanyikan berkali-kali secara lembut oleh ibu yang malang itu. Sementara itu si ibu menuju ke Atu Belah, kedua anaknya terus mengikutinya sambil menangis dari kejauhan. Yang besar menggendong adiknya yang masih kecil.
Akhirnya apa yang terjadi? Lambat-lambat tetapi pasti bagian batu yang terbelah itu terbuka. Tanpa ragu-ragu lagi si ibu masuk ke dalam mulut batu. Sedikit demi sedikit tubuhnya ditelan oleh Batu Besar setelah ia berulang kali menyanyikan kalimat yang bertuah itu.
Pada waktu kedua kakak beradik itu tiba di sana. Keadaan alam di sekitarnya amat buruk. Hujan turun deras disertai angin ribut. Bumi terasa bergetar karena sedang menyaksikan Atu Belah menelan manusia. Setelah semua reda, dengan hati hancur luluh kedua kakak beradik itu hanya dapat melihat rambut ibunya yang tidak tertelan Atu Belah. Kemudian anak sulungnya mencabut tujuh helai rambut ibunya untuk dijadikan jimat pelindung mereka berdua.















